Sholat adalah Tiang Agama. Sudah memaklumi dan memahami bersama bahwa Menjalankan Agama tanpa adanya Sholat berarti bagaikan rumah tak ada tiangnya, pasti rumah ambruk, dan bukan rumah namanya. Begitu juga dengan Sholat adalah sebagai tiang yang paling utama dalam Agama kita (Islam).
Di sini saya akan menjelaskan tentang Bab Sholat Wajib, mulai dari pengertian Agama, sampai aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Saya sering melihat tentang cara Sholat ikhwan di mana-mana sering saya jumpai masih prihatin. Khususnya dalam hal Sholat Berjama'ah. Dalam Sholat Berjamaah tentunya ada Imam dan ada Makmum. Nah, khususnya di lingkungan Yayasan kita ini saya pribadi sering MENGAMATI seorang Imam yang masih belum memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang Imam dalam Sholat.
Kadang bahkan sering Imam sudah Takbirotul Ikhrom sedangkan Makmum masih berantakan di Shof belakang, sehingga kocar-kacir.....barisan tidak rapat, mencang-menceng dan lain sebagainya....
Nah di sini saya sajikan bukannya saya MENGGURUI, tapi hanya sekedar Sharing dan mengingatkan khususnya kepada saya pribadi jika menjadi Imam Sholat. Mari kita simak bacaan berikut ini :
SHALAT WAJIB
A. Pengertian Shalat Wajib
Shalat adalah ibadah yang dilakukan dengan gerakan-gerakan disertai ucapanucapan tertentu berdasarkan syarat-syarat dan rukun tertentu, diawali dengan takbiratulihram serta diakhiri dengan salam. Yang dimaksud shalat wajib adalah salat lima waktu dalam sehari semalam, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.
Shalat wajib hukumnya fardu ain. Artinya, wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang sudah memenuhi syarat-syaratnya.
1. Syarat Wajib Shalat
Syarat wajib salat adalah segala sesuatu yang harus dipenuhi sebagai prasyarat wajib sebelum mengerjakan salat. Beberapa hal yang merupakan syarat wajib salat adalah sebagai berikut:
a. beragama Islam;
b. suci dari haid dan nifas bagi kaum wanita;
c. berakal sehat;
d. sudah balig (dewasa);
e. sudah sampai seruan untuk salat (dakwah);
f. terjaga (tidak tidur).
2. Syarat Sah Shalat
Syarat sah salat adalah segala sesuatu yang harus dipenuhi sebelum mengerjakan salat. Sah tidaknya salat, tergantung dari syarat-syarat tersebut. Adapun syarat-syarat sah salat adalah sebagai berikut:
a. suci dari hadas besar ataupun, hadas kecil;
b. suci badan, pakaian, dan tempat dari najis;
c. menutup aurat;
d. menghadap kiblat;
e. sudah masuk waktu shalat.
3. Rukun Shalat
Rukun shalat adalah segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam melakukan shalat. Jika tidak dilaksanakan salah satu saja, salatnya tidak sah. Adapun yang termasuk rukun shalat adalah sebagai berikut:
a. niat;
b. berdiri bagi yang mampu;
c. takbiratulihram;
d. membara al-Fatihah;
e. rukuk dengan tumakninah;
f. iktidal dengan tumakninah;
g. sujud dengan tumakninah;
h. duduk di antara dua sujud dengan tumakninah;
i. duduk lahiyat akhir dengan tumakninah;
j. membaca tasyahud akhir;
k. membaca selawat nabi;
l. melakukan salam pertama;
m. tertib, artinya berurutan sejak takbiratulihram hingga salam.
4. Sunah Shalat
Selain rukun shalat yang harus dikerjakan, ada juga sunah shalat yang dianjurkan untuk dikerjakan. Sunah shalat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sunah ab’ad dan sunah hai'at.
a. Sunah Ab'ad
Sunah ab’ad adalah sunah yang apabila tidak dikerjakan harus mengganti dengan sujud sahwi. Adapun hal-hal yang termasuk sunah ab'ad adalah sebagai berikut:
membaca tahiyat awal pada shalat Magrib, Isya, Zuhur, dan Asar;
duduk tasyahud;
membaca selawat nabi.
b. Sunah Hai'at
Sunah hai'at adalah sunah yang apabila tidak dikerjakan, tidak perlu mengerjakan sujud sahwi. Adapun hal-hal yang termasuk sunah hai'at adalah sebagai berikut:
1. mengangkat kedua tangan ketika takbiratulihram, ketika akan rukuk, ketika bangkit dari rukuk, dan bangkit dari tahiyat awal;
2. meletakkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri (bersedekap) di bawah dada atau di atas pusar;
3. membaca doa iftitah;
4. membaca taawuz sebelum membaca al-Fatihah;
5. membaca amin sesudah membaca al-Fatihah;
6. membaca surat atau ayat Al-Qur'an setelah membaca al-Fatihah pada rakaat pertama, dan kedua;
7. menyaringkan bacaan al-Fatihah dan surah pada rakaat pertama dan kedua pada shalat Subuh, Magrib, dan Isya, kecuali sebagai makmum;
8. membaca takbir ketika akan rukuk, akan sujud, bangkit dari sujud, dan bangkit dari tahiyat awal;
9. membaca tasbih ketika rukuk dan sujud;
10. membaca sami'allahu Liman hamidah rabbana lakal-hamdu ketika bangkit dari rukuk (iktidal);
11. meletakkan kedua telapak tangan di atas paha ketika duduk di antara dua sujud, tahiyat awal, dan tahiyat akhir;
12. duduk iftirasy (duduk di antara dua sujud);
13. duduk tawaruk (bersimpuh) pada waktu tahiyat akhir;
14. membaca salam yang kedua.
5. Yang Membatalkan Shalat
Ada beberapa hal yang dapat membatalkan shalat. Adalah hal-hal yang membatalkan shalat adalah sebagai berikut:
a. berhadas besar ataupun kecil;
b. terkena najis;
c. berbicara atau tertawa;
d. terbuka auratnya;
e. berubah niatnya;
f. makan atau minum
g. bergerak di luar ketentuan shalat;
h. meninggalkan shalah satu rukun shalat;
i. tidak menghadap kiblat, kecuali shalat dalam kendaraan.
Kesimpulan :
1. Shalat yang wajib dilakukan seorang Muslim dalam sehari semalam ada lima waktu.
2. Shalat sah apabila memenuhi syarat dan rukun yang telah ditentukan.
3. Shalat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
4. Di antara hikmah shalat adalah dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
Shalat adalah ibadah yang dilakukan dengan gerakan-gerakan disertai ucapanucapan tertentu berdasarkan syarat-syarat dan rukun tertentu, diawali dengan takbiratulihram serta diakhiri dengan salam. Yang dimaksud shalat wajib adalah salat lima waktu dalam sehari semalam, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.
Shalat wajib hukumnya fardu ain. Artinya, wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang sudah memenuhi syarat-syaratnya.
1. Syarat Wajib Shalat
Syarat wajib salat adalah segala sesuatu yang harus dipenuhi sebagai prasyarat wajib sebelum mengerjakan salat. Beberapa hal yang merupakan syarat wajib salat adalah sebagai berikut:
a. beragama Islam;
b. suci dari haid dan nifas bagi kaum wanita;
c. berakal sehat;
d. sudah balig (dewasa);
e. sudah sampai seruan untuk salat (dakwah);
f. terjaga (tidak tidur).
2. Syarat Sah Shalat
Syarat sah salat adalah segala sesuatu yang harus dipenuhi sebelum mengerjakan salat. Sah tidaknya salat, tergantung dari syarat-syarat tersebut. Adapun syarat-syarat sah salat adalah sebagai berikut:
a. suci dari hadas besar ataupun, hadas kecil;
b. suci badan, pakaian, dan tempat dari najis;
c. menutup aurat;
d. menghadap kiblat;
e. sudah masuk waktu shalat.
3. Rukun Shalat
Rukun shalat adalah segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam melakukan shalat. Jika tidak dilaksanakan salah satu saja, salatnya tidak sah. Adapun yang termasuk rukun shalat adalah sebagai berikut:
a. niat;
b. berdiri bagi yang mampu;
c. takbiratulihram;
d. membara al-Fatihah;
e. rukuk dengan tumakninah;
f. iktidal dengan tumakninah;
g. sujud dengan tumakninah;
h. duduk di antara dua sujud dengan tumakninah;
i. duduk lahiyat akhir dengan tumakninah;
j. membaca tasyahud akhir;
k. membaca selawat nabi;
l. melakukan salam pertama;
m. tertib, artinya berurutan sejak takbiratulihram hingga salam.
4. Sunah Shalat
Selain rukun shalat yang harus dikerjakan, ada juga sunah shalat yang dianjurkan untuk dikerjakan. Sunah shalat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sunah ab’ad dan sunah hai'at.
a. Sunah Ab'ad
Sunah ab’ad adalah sunah yang apabila tidak dikerjakan harus mengganti dengan sujud sahwi. Adapun hal-hal yang termasuk sunah ab'ad adalah sebagai berikut:
membaca tahiyat awal pada shalat Magrib, Isya, Zuhur, dan Asar;
duduk tasyahud;
membaca selawat nabi.
b. Sunah Hai'at
Sunah hai'at adalah sunah yang apabila tidak dikerjakan, tidak perlu mengerjakan sujud sahwi. Adapun hal-hal yang termasuk sunah hai'at adalah sebagai berikut:
1. mengangkat kedua tangan ketika takbiratulihram, ketika akan rukuk, ketika bangkit dari rukuk, dan bangkit dari tahiyat awal;
2. meletakkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri (bersedekap) di bawah dada atau di atas pusar;
3. membaca doa iftitah;
4. membaca taawuz sebelum membaca al-Fatihah;
5. membaca amin sesudah membaca al-Fatihah;
6. membaca surat atau ayat Al-Qur'an setelah membaca al-Fatihah pada rakaat pertama, dan kedua;
7. menyaringkan bacaan al-Fatihah dan surah pada rakaat pertama dan kedua pada shalat Subuh, Magrib, dan Isya, kecuali sebagai makmum;
8. membaca takbir ketika akan rukuk, akan sujud, bangkit dari sujud, dan bangkit dari tahiyat awal;
9. membaca tasbih ketika rukuk dan sujud;
10. membaca sami'allahu Liman hamidah rabbana lakal-hamdu ketika bangkit dari rukuk (iktidal);
11. meletakkan kedua telapak tangan di atas paha ketika duduk di antara dua sujud, tahiyat awal, dan tahiyat akhir;
12. duduk iftirasy (duduk di antara dua sujud);
13. duduk tawaruk (bersimpuh) pada waktu tahiyat akhir;
14. membaca salam yang kedua.
5. Yang Membatalkan Shalat
Ada beberapa hal yang dapat membatalkan shalat. Adalah hal-hal yang membatalkan shalat adalah sebagai berikut:
a. berhadas besar ataupun kecil;
b. terkena najis;
c. berbicara atau tertawa;
d. terbuka auratnya;
e. berubah niatnya;
f. makan atau minum
g. bergerak di luar ketentuan shalat;
h. meninggalkan shalah satu rukun shalat;
i. tidak menghadap kiblat, kecuali shalat dalam kendaraan.
Kesimpulan :
1. Shalat yang wajib dilakukan seorang Muslim dalam sehari semalam ada lima waktu.
2. Shalat sah apabila memenuhi syarat dan rukun yang telah ditentukan.
3. Shalat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
4. Di antara hikmah shalat adalah dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
SHALAT JAMAAH DAN MUNFARID
A. Pengertian Shalat Jamaah dan Munfarid
Shalat jamaah adalah shalat yang dikerjakan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih, shalah satu di antara mereka sebagai imam dan yang lainnya sebagai makmum. Mengerjakan salat dengan berjamaah hukumnya sunah mitakad, artinya bangat dianjurkan. Salat munfarid adalah salat yang dikerjakan secara sendirian, tidak ada imam dan tidak ada makmum.
Kelebihan salat berjamaah dengan salat sendirian adalah dua puluh tujuh
derajat. Hal itu dijelaskan dalam hadis sebagai berikut.
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ اَفْضَلُ مِنْصَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً. (رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر )
Artinya:
Salat jamaah itu lebih utama dari pada salat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat. (H.R. al-Bukhari nomor 609 dan Muslim nomor 1038 dari Ibnu Umar)
Shalat berjamaah juga dianjurkan oleh Allah swt., sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surah an-Nisa' Ayat 102 sebagai berikut.
وَاِذَاكُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلوةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُمْ مَّعَكَ....النساء/102:4
Artinya:
Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabstmu) lalu engkau hendak melaksanakan shalat bersama -sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu.... (Q.S. an--Nisa'/4: 102)
Dalam mengerjakan shalat berjamaah ada beberapa ketentuan yang ditetapkan syarak, antara lain sebagai berikut.
1. Syarat Shalat Jamaah
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam shalat jamaah. Syarat-syarat shalat jamaah adalah sebagai berikut.
a. Ada imam.
b. Ada makmum.
c. Shalat dilakukan dalam satu majelis (tempat).
d. Shalat makmum harus sesuai dengan shalat imam.
2. Syarat Imam
Orang yang memimpin shalat berjamaah disebut imam. Untuk menjadi imam, seseorang harus memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat untuk menjadi imam dalam salat adalah sebagai berikut:
a. mengetahui syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkan, shalat;
b. bacaannya fasih;
c. berakal sehat;
d. sudah balig;
e. mampu mengerjakan shalat, artinya memenuhi syarat-syarat sah shalat.
Selain syarat-syarat tersebut, imam harus seorang laki-laki jika makmumnya laki-laki. Untuk makmum perempuan, imam boleh laki-laki atau perempuan. Jika makmum banci, imam harus laki-laki.. Jika imamnya perempuan, sedangkan makmumnya laki-laki dewasa, shalatnya tidak sah.
Jika kelima syarat tersebut terpenuhi semua, yang berhak menjadi imam adalah yang lebih tua di antara mereka.
3. Syarat Makmum
Orang yang mengikuti gerak gerik imam dalam shalat jamaah disebut makmum. Beberapa syarat yang harus dipenuhi makmum adalah sebagai berikut:
a. berniat sebagai makmum;
b. mengikuti gerak gerik imam sejak takbiratulihram hingga salam;
c. berada di belakang imam;
d. berada dalam satu majelis (tempat) bersama imam;
e. tidak boleh mendahului gerakan imam;
f. tidak boleh bermakinum kepada orang yang diketahui shalatnya batal;
g. salat makmum sesuai dengan salat imam.
4. Cara Melakukan Shalat Jamaah
Cara melakukan shalat jamaah adalah salah satu di antara jamaah Yang dipandang berhak menjadi imam bertindak sebagai imam. Adapun yang lainnya berjajar teratur di belakang imam sebagai makmum, kemudian memulai shalat. Imam berniat sebagai imam dan makmum berniat sebagai makmum. Selanjutnya, imam memimpin shalat dan makmum mengikuti segala gerak gerik imam sejak takbiratulihram hingga salam.
a. Tata Cara sebagai Imam
Sebelum salat jamaah dimulai, hendaknya imam melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Imam menghadap ke belakang memerhatikan makmum dan menyuruh agar saf yang kurang rapat supaya dirapatkan.
2). Imam menyuruh para makmum supaya meluruskan safnya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. dalam memimpin shalat jamaah. Beliau selalu bersabda sebagai berikut.
سَوُّوْاصُفُوْفَكُمْ فَاِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ. (رواه احمد عن أبِي أمامة )
Artinya:
Luruskan safmu karena lurusnya saf itu merupakan kesempurnaan dalam shalat. (H.R. Muslim dari Anas bin Malik nomor 656)
3). Imam menyuruh makmum supaya memenuhi saf yang masih kosong sehingga rapat antara satu dan yang lainnya. Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut:
سَدُّ واالْخَلَلَ فَاِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ بَيْنَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْحَذْفِ. (رواه احمد عن أبي أمامة)
Artinya:
Penuhilah jarak yang kosong di antara kamu karena sesungguhnya setan akan masuk di antara kamu pada tempat yang kosong. (H.R. Ahmad dari Abu Umamah nomor 21233)
4). Setelah saf rapi dan teratur, imam memulai shalat jamaah dengan khusyuk, tumakninah, tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lama.
b. Tata Cara sebagai Makmum
Apabila dalam shalat berjamaah bertindak sebagai makmum, kita harus melakukan hal-hal sebagai berikut.
1). Kita memenuhi saf depan yang masih kosong.
2). Kita merapatkan dan merapikan saf.
3). Apabila imam menyerukan, "Sawwu sufufakum fa inna taswiyatas-sufufi
min tamamis-salah," kita menyahut dengan mengucapkan, "Sami'na wa
ata'na."
4). Kita mengikuti segala gerak gerik imam sejak takbiratulihram hingga salam.
5). Apabila imam membaca Surah al-Fdtihah pada rakaat pertama dan kedua sampai pada lafal, "Walad-dallin," kita hendaknya menyahut dengan mengucapkan "Amin"
6). Apabila imam lupa melakukan salah satu rukun shalat, kita mengingatkannya dengan mengucapkan, "Subhanalah" bagi makmum laki-laki, sedangkan bagi makmum perempuan dengan menepuk tangan.
7). Apabila imam keliru bacaannya atau salah dalam membaca surah atau ayat Al-Qur'an, kita mengingatkannya dengan mengucapkan lafal yang sebenarnya. Jika imam batal, makmum yang terdekat dari imam segera maju menggantikannya.
c. Pengaturan Saf
Keteraturan saf dalam shalat jamaah merupakan bagian dari kesempurnaan shalat. Oleh karena itu, sebelum shalat jamaah dimulai terlebih dahulu saf diatur dan dirapikan sesuai dengan ajaran-ajaran Rasulullah saw.
Pengaturan saf dalam shalat jamaah adalah sebagai berikut.
1). Apabila makmum hanya seorang laki-laki, makmum berdiri bejajar di sebelah kanan imam.
2). Apabila makmum terdiri atas dua orang laki-laki, makmum yang satu berada tepat di belakang imam. Adapun yang lain berada di sebelah kanan makmum pertama.
3). Apabila makmum hanya seorang perempuan makmun berdiri tepat dibelakang Imam.
4). Apabila makmum terdiri atas dua orang perempuan, makmum berjajar rapat di belakang imam.
5). Apabila makmum terdiri atas beberapa orang laki-laki, makmum berjajar rapat di belakang imam.
6). Apabila makmum terdiri atas beberapa orang laki-laki, perempuan, anak laki-laki, dan anak-anak perempuan, pengaturan saf adalah sebagai bdrikut.
a). Saf paling depan laki-laki dewasa.
b). Saf berikutnya anak-anak laki-laki.
c). Saf berikutnya anak-anak perempuan.
d). Kemudian, bare saf perempuan dewasa.
Kesimpulan :
1. Mengerjakan shalat berjamaah hukumnya, sunah muakad, artinya sunah yang sangat dianjurkan.
2. Mengerjakan shalat jamaah berpahalaa lipat 27 derajat jika dibandingkan dengan shalat yang dikerjakan sendirian.
3. Dalam shalat berjamaah, makmum harus berjajar rapat dan rapi karena kerapian saf merupakan kesempurnaan dalam shalat.
4. Apabila saf tidak rapat, setan akan masuk di tengah-tengahnya untuk menggoda

No comments:
Post a Comment